Kemungkinan sekarang ini kamu tengah merasakannya. Menyemangati rekan yang sedang bingung dengan hidupnya, sesaat di saat yang serupa kamu juga tengah perlu pundak untuk bertumpu. Dengan kalimat arif yang klise yang entahlah demikian saja mengucur dari mulutmu, kamu usaha memperkuat temanmu. Walau tidak demikian saja mereka lepas dari duka cita, minimal mereka berasa lebih lega dengan menceritakan. Lalu apa beritanya hidupmu sendiri yang faktanya tidak berjalan baik saja?

Dengarkan narasi rekan benar-benar bukan beban buatmu. Tidak ada yang memaksakan, apa lagi menuntutmu. Itu berlangsung dengan alami. Entahlah dengan diawali bertanya atau sapa, kamu mulai terbenam dalam pembicaraan yang menyertakan emosi dalam. Sediakan telingamu sesaat untuk rekan atau teman dekatmu, malah jadi kebahagiaan tertentu untukmu. Bukan lantaran narasi mereka pantas untuk diketawai. Tetapi, semata-mata sebab kamu suka mereka masih memercayaimu untuk share beban.

Pantang buatmu memandang narasi seseorang ialah sampah. Kadang kamu malah mendapati pelajaran hidup dari permasalahan seseorang. Kamu usaha untuk pahami bagaimana rasanya ada di status mereka. Terkadang kamu hadapi rekan yang terisak karena barusan dicampakkan oleh kekasihnya, seringkali juga kamu mendapati muka senang teman dekat yang sedang jatuh hati. Terkadang kamu rasakan warna merah jambu dari musuh bicaramu, tetapi seringkali kamu turut terlarut dalam duka cita mereka.

Tidak untuk memperlihatkan diri kamu seakan perduli. Tetapi hati nurani yang membuat kamu usaha untuk menyemangati mereka. Jika hidup harus berjalan, tentu ada jalan keluar, sampai pernyataan klise yang lain, jadi pernyataan unggulanmu waktu menyemangati. Yang sesungguhnya pernyataan itu diperuntukkan untuk kamu juga. Sebab kamu sama rapuhnya sama mereka. Entahlah sekarang ini kamu tengah berpura tidak berasa ada permasalahan atau sesungguhnya menyengaja kamu tutupi dari pihak lain.

The Perks of Nyemangatin Orang Paling Bisa, Padahal Hidup Sendiri (Masih) Porak Poranda~
error: Content is protected !!